Advertisement

Kualitas Udara Pekanbaru Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat, Ketua Yayasan Kiandra Setia Bangsa Imbau Warga Waspada

PEKANBARU – Kondisi kualitas udara di Kota Pekanbaru kembali menjadi perhatian. Pada Kamis (8/10/2026) pagi, konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 tercatat mencapai 176,8 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB, sehingga masuk dalam kategori Sangat Tidak Sehat.

Kondisi tersebut menunjukkan tingginya paparan partikel halus di udara yang berpotensi mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, balita, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Berdasarkan data pemantauan sejak tengah malam hingga pagi hari, konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru berada pada kisaran 164,6 hingga 215,5 µg/m³, dengan konsentrasi tertinggi mencapai 215,5 µg/m³.

Kondisi ini berlangsung bersamaan dengan potensi kekaburan udara akibat asap di sejumlah wilayah Riau.

BMKG Ingatkan Potensi Kekaburan Udara

Forecaster BMKG Pekanbaru, Yasir Prayuna, menjelaskan bahwa potensi kekaburan akibat asap masih dapat terjadi di sebagian besar wilayah Riau sepanjang hari.

“Prakiraan cuaca menunjukkan potensi kekaburan akibat asap terjadi sejak pagi hingga dini hari. Meskipun terdapat peluang hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di beberapa titik seperti Rokan Hilir, Kampar, Bengkalis, Siak, Dumai, dan Pekanbaru, kondisi udara kabut asap tetap perlu diwaspadai,” ujar Yasir.

Selain kondisi kualitas udara di Pekanbaru, BMKG juga mencatat keberadaan 19 titik panas (hotspot) di wilayah Riau. Kabupaten Kuantan Singingi menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 15 titik.

Sementara itu, secara keseluruhan di Pulau Sumatera terdeteksi 4.845 titik panas. Sebaran terbesar tercatat di Sumatera Selatan sebanyak 3.847 titik, disusul Jambi 384 titik, Bangka Belitung 316 titik, dan Lampung 251 titik.

Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi atmosfer dan keberadaan titik panas masih menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian, khususnya dalam kaitannya dengan potensi penurunan kualitas udara di sejumlah wilayah.

Mulyono Widiarta Imbau Masyarakat Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Yayasan Kiandra Setia Bangsa, Mulyono Widiarta, S.T., mengimbau masyarakat Pekanbaru dan sekitarnya meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak paparan udara dengan konsentrasi partikulat tinggi.

Ia secara khusus meminta masyarakat memperhatikan kondisi anak-anak, balita, lansia, dan kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap gangguan kesehatan akibat kualitas udara yang buruk.

“Kondisi udara yang masuk dalam kategori Sangat Tidak Sehat ini tentu menjadi perhatian serius karena dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama risiko gangguan pernapasan pada kelompok rentan seperti anak-anak, balita, dan lansia. Kami mengimbau seluruh warga Pekanbaru dan sekitarnya untuk membatasi aktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak,” tegas Mulyono Widiarta, S.T.

Menurutnya, kewaspadaan masyarakat perlu ditingkatkan selama kondisi kualitas udara belum kembali membaik.

Masyarakat juga diimbau mengikuti informasi kualitas udara dan perkembangan cuaca dari sumber resmi, serta menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar ruangan.

Yayasan Siapkan Edukasi dan Bantuan Masker

Mulyono menegaskan bahwa Yayasan Kiandra Setia Bangsa berkomitmen ikut mengambil bagian dalam upaya perlindungan masyarakat di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk.

“Yayasan Kiandra Setia Bangsa akan bersiap menyalurkan bantuan kesehatan berupa pembagian masker serta edukasi mengenai langkah-langkah pencegahan kepada masyarakat. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling peduli, menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar ruangan, menjaga kondisi tubuh, serta memperhatikan kesehatan keluarga,” ujarnya.

Ia juga berharap pemerintah bersama seluruh pihak terkait dapat memperkuat langkah pencegahan dan penanganan terhadap sumber-sumber kebakaran agar potensi kabut asap tidak berkembang dan berlangsung lebih lama.

Menurut Mulyono, persoalan kualitas udara bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat dan kualitas hidup warga. Karena itu, penanganannya membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, aparat, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan seluruh warga.

Lindungi Kelompok Rentan, Pantau Kualitas Udara

Dalam kondisi kualitas udara yang buruk, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika konsentrasi PM2.5 meningkat. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi apabila tidak diperlukan, sementara kelompok rentan perlu mendapat perhatian lebih.

Masyarakat juga diharapkan tidak mengabaikan gejala gangguan kesehatan yang muncul selama periode kualitas udara buruk dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan yang mengkhawatirkan.

Yayasan Kiandra Setia Bangsa menilai bahwa edukasi publik menjadi bagian penting dalam menghadapi persoalan kualitas udara. Informasi yang akurat dan tindakan pencegahan sejak dini diharapkan dapat membantu mengurangi risiko kesehatan masyarakat.

Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran hutan serta lahan merupakan tanggung jawab bersama.

Dengan meningkatkan kewaspadaan, memperkuat edukasi, serta mempercepat penanganan sumber-sumber asap dan titik panas, kualitas udara di Pekanbaru dan wilayah Riau diharapkan dapat segera kembali ke kondisi yang lebih aman bagi masyarakat.

Redaksi Media Yayasan Kiandra Setia Bangsa

“Kepedulian Sosial, Kemanusiaan, dan Edukasi Lingkungan.”

Penulis             : Tim Litbang Yayasan Kiandra Setia Bangsa
Kategori          : Publikasi Ilmiah dan Edukasi Publik
Kontak             : Media Center Yayasan Kiandra Setia Bangsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *