PEKANBARU, MEDIA KIANDRA — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau kembali menjadi perhatian nasional. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan apresiasi langsung atas kinerja taktis Satuan Tugas (Satgas) Karhutla saat memimpin rapat koordinasi penanganan bencana di Posko Aju Riau, Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Senin (24/8/2026).
Langkah kolaboratif yang melibatkan Pemerintah Daerah, TNI, Polri, BPBD, hingga kementerian/lembaga terkait dinilai berhasil menekan potensi bencana yang meluas. Berdasarkan laporan resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau, akumulasi luas lahan terbakar dari Januari hingga Agustus 2026 mencapai 16.277,50 hektare dengan total 10.514 titik panas (hotspot). Namun, berkat koordinasi intensif di lapangan, luasan area terdampak berhasil dikendalikan secara signifikan hingga tersisa tujuh titik api pada pertengahan Agustus.
Keberhasilan menekan eskalasi titik api tersebut membuktikan efektivitas sinergi lintas sektor dalam merespons ancaman krisis lingkungan di kawasan rawan gambut.
Tanggapan dan Catatan Strategis Yayasan Kiandra Setia Bangsa
Menanggapi perkembangan tersebut, Ketua Yayasan Kiandra Setia Bangsa, Mulyono Widiarta, S.T., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh aparat, petugas gabungan, dan relawan yang berjibaku di lapangan. Menurutnya, respons cepat yang diperlihatkan jajaran pemerintah merupakan bukti hadirnya negara dalam melindungi ekosistem serta keselamatan masyarakat Riau.
Meski demikian, Mulyono menegaskan bahwa apresiasi dari Kepala Negara hendaknya tidak membuat seluruh pemangku kepentingan berpuas diri, melainkan menjadi pemicu untuk memperkuat mitigasi jangka panjang.
“Apresiasi dari Presiden Prabowo Subianto merupakan dorongan moral yang sangat berarti bagi Satgas Karhutla dan seluruh elemen yang bertugas di lapangan. Namun, sebagaimana diinstruksikan oleh Presiden, kita tidak boleh lengah. Penanganan karhutla tidak boleh berhenti pada aksi reaktif saat api membesar, melainkan harus berfokus pada tindakan pencegahan dini sejak titik hotspot terdeteksi,” ujar Mulyono Widiarta, S.T.
Ia menambahkan, Yayasan Kiandra Setia Bangsa berkomitmen untuk terus mengambil peran aktif dalam mendukung program pemerintah dan edukasi masyarakat. Penanganan karhutla yang berkelanjutan membutuhkan pendekatan edukatif dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di tingkat tapak agar kesadaran menjaga lahan dan hutan terbangun menjadi budaya bersama.
Menguatkan Tindakan Dini dan Kolaborasi Berbasis Masyarakat
Pesan tegas Presiden Prabowo agar petugas tidak menunggu status hotspot berubah menjadi fire spot (titik api) menjadi catatan kritis yang sangat penting. Penguatan sistem peringatan dini (early warning system), pemenuhan infrastruktur pembasahan gambut (seperti pembuatan sumur bor di kawasan rawan), serta patroli terpadu skala lokal harus terus diintensifkan.
Sinergi yang solid antara pemerintah, aparat keamanan, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan warga lokal adalah kunci utama dalam mempertahankan capaian positif ini. Dengan merawat komitmen pencegahan dini secara konsisten dan terukur, Provinsi Riau optimistis dapat terbebas dari bencana asap demi terwujudnya kualitas lingkungan hidup yang aman dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
— Tim Media Center Yayasan Kiandra Setia Bangsa
Penulis : Tim Litbang Yayasan Kiandra Setia Bangsa
Kategori : Publikasi Ilmiah dan Edukasi Publik
Kontak : Media Center Yayasan Kiandra Setia Bangsa













Leave a Reply